Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, memberikan pernyataan tegas terkait status siaga tempur di Papua. Beliau meluruskan pemahaman yang berkembang di masyarakat bahwa status tersebut bukanlah bentuk operasi militer, melainkan sebuah langkah antisipasi terukur dalam menghadapi potensi gangguan keamanan. Penegasan ini disampaikan untuk menghindari kesalahpahaman dan memberikan informasi yang akurat mengenai situasi di lapangan.
Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, pada hari Minggu, 28 April 2024, Jenderal Agus Subiyanto menjelaskan bahwa keputusan untuk menerapkan status siaga tempur di Papua diambil sebagai respons terhadap dinamika keamanan yang meningkat, terutama aktivitas kelompok bersenjata yang mengganggu stabilitas wilayah. “Ini bukanlah operasi militer. Ini adalah siaga tempur, yang artinya kami meningkatkan kesiapsiagaan dan siap merespons setiap potensi ancaman dengan cepat dan terukur,” jelas Panglima TNI.
Panglima TNI juga menekankan perbedaan mendasar antara status siaga tempur dan operasi militer. Beliau menjelaskan bahwa operasi militer biasanya melibatkan pengerahan kekuatan militer dalam skala besar dengan tujuan mencapai target militer yang spesifik. Sementara itu, siaga tempur lebih berfokus pada peningkatan kesiapan pasukan untuk merespons potensi ancaman yang mungkin timbul.
“Kami mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam menangani situasi di Papua. Namun, kami juga harus siap menghadapi segala kemungkinan ancaman yang ada. Kami tidak ingin ada korban sipil dalam setiap tindakan yang kami lakukan,” tambah Jenderal Agus.
Menurut keterangan dari Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) XVII/Cenderawasih, Brigadir Jenderal TNI Yudha Airlangga, yang turut hadir dalam konferensi pers tersebut, status siaga tempur ini melibatkan peningkatan patroli, pengawasan, dan kesiapan pasukan di wilayah-wilayah yang dianggap rawan. “Kami meningkatkan intensitas kegiatan pengamanan dan memastikan bahwa pasukan kami siap merespons setiap potensi ancaman dengan cepat dan efektif,” ungkap Brigjen Yudha.
Panglima TNI juga menegaskan pentingnya koordinasi dengan pihak kepolisian dan pemerintah daerah dalam menjaga keamanan di Papua. Beliau berharap agar masyarakat dapat memahami dan mendukung upaya TNI dalam menciptakan stabilitas keamanan di wilayah tersebut. Dengan penjelasan ini, diharapkan tidak ada lagi kesalahpahaman mengenai status siaga tempur yang bukan merupakan operasi militer, melainkan langkah antisipasi terukur untuk menjaga stabilitas dan keamanan di wilayah Papua.
